Pengetahuan Dalam Pandangan Filsafat
Pengetahuan Dalam Pandangan Filsafat
Dalam perkembangan filsafat terdapatbanyak tokoh yang berperan penting dalam perkembangan filsafat. Salah satunya Imanuel Kant, tokoh filsuf pada abad 18. Imanuel Kant awalanya memandang rasionalisme dan empirisme senantiasa berat sebelah dalam menilai akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Rasionalisme mengira telah menemukan kunci bagi pembukaanrealitas diri atau lepas dari pengalaman. Sedangkan empirisme mengira telah memperoleh pengetahuan dari pengalaman saja.
Pengetahuan berasal dari kata tahu, atau jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia berarti paham. Sehingga bisa diartikan sebagai pemahaman. Kant menggunakan kata ini untuk mengungkapkan penggunaan akal budi dan konsep dalam proses mengetahui.
Immanuel Kant menganalisis tentang pengetahuan dengan didasarkan pada pemahaman umum. Kant tidak pernah ragu terhadap pengamatan umum yang dilakukan oleh banyak orang. Misalnya, jika kita melihat balok kayu, ya kita melihat balok kayu(itu saja). Tidak ada keraguan tentang hal itu. Dengan demikian Kant meyakini bahwa untuk mendalilkan teori skeptis, seperti tidak ada dunia di luar diri, merupakan jurang maut yang mendiskreditkan filsafat.
Kant berpendapat bahwa kita tidak dapat terus menerus meragukan pengetahuan kita. Dan dari hasil eksplorasi kondisi – kondisi penentu kita dalam memiliki pengetahuan. Kant melihat permasalahan ini secara analitis, sehingga dapat dipecahkan melalui penalaran. Kant berpendapat bahwa akal budi kita memiliki posisi yang istimewa. Sebagai contoh : gagasan
pikiran setiap manusia rasional tentu berpendapat bahwa seluruh peristiwa di semesta saling berkaitan. Hal ini tidak perlu dibuktikan secara empiris karena pernyataan bahwa segala peristiwa memiliki kausalitas dalam diri sendiri adalah benar.
Kant membagi pengetahuan kita menjadi sebagai berikut:
Suatu pernyataan bersifat analitik, jika predikat dari subjek termuat dalam subjek. Sebagai contoh, tautologi “semua lingkaran adalah bulat.”. Pernyataan ini benar karena predikat ‘bulat’ terkandung dalam subjek ‘lingkaran’.
Suatu pernyataan bersifat tidak analitik, jika pernyataan tersebut menambahkan sesuatu yang baru tentang subjek. Pernyataan ini kemudian disebut tidak murni dan disebut sebagai pernyataan sintetik. Sebagai contoh, “semua benda memiliki berat”.
Suatu pernyataan disebut benar secara a priori, atau dengan kata lain kebenarannya ditentukan sebelum pengalaman, atau tanpa referensi pada pengalaman.
Suatu pernyataan disebut benar secara a posteriori, jika pernyataan tersebut ditentukan kebenarannya melalui referensi pada pengalaman. Artinya kebenarannya hanya dapat ditentukan melalui acuan bukti empiris.
Seluruh pernyataan analitik bersifat a priori dengan alasan, bahwa kebenaran logika pernyataan tersebut terlepas dari pengalaman yang kita alami. Pernyataan ini tidak membutuhkan bukti empris untuk penilaian kebenarannya. Sebab terlepas dari pengalaman atau tidak ada referensi pengalaman sebelumnya. Analitik a priori, predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang).
Seluruh pernyataan a posteriori dengan sendirinya pasti bersifat sintetik, karena terdapat informasi tambahan pada subjek yang didapatkan melalui pengalaman. Pada pernyataan di atas, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui.
Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, adakah pernyataan sintetik yang bersifat a priori? Kant berpendapat bahwa ada pernyataan sintetik yang bersifat a priori, misalnya pernyataan kausalitas Kant berpendapat bahwa studi filsafat menjadi menarik ketika dihadapkan pada problem a priori sintetik. Dan faktanya, memang kajian filsafat modern selalu berhadapan dengan permasalahan a priori sintetik.
Kant berpendapat, bahwa a priori sintetik merupakan sesuatu yang esensial, karena merupakan bagian dari keutuhan nalar kita. A priori sintetik merupakan kondisi niscaya yang diperlukan agar pengetahuan menjadi mungkin. Putusan sintesis a priori; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak, namun putusan ini juga bersifat sintetis dan aposteriori. Sebab di dalam pengertian “sebab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pasti, mekanika dan ilmu pengetahuan alam disusun atas putusan sintetis yang bersifat apriori ini.
Di sinilah terletak kekhasan pemikiran seorang Immanuel Kant, yang ia sebut sebagai Revolusi Copernicus dalam bangunan filsafat. Kant menempatkan pikiran dalam kerangka aktif proses mengetahui dan a priori sintentik merupakan cara pikiran untuk aktif dalam proses mengetahui.
Comments
Post a Comment